Kamis, 26 Maret 2009

Langganan Banjir & Cileuncang


Pemangkasan curug cijompong adalah pemusnahan Nature heritage, pemikiran tidak maju sama saja dengan menghancurkan situs kekayaan alam

Penggundulan hutan Kina di kawasan Cikembang-Kertasari, pada gb diatas bagian pojok kiri bawah, sebelumnya adalah hutan kina yang sangat lebat

Mungkin sudah terlalu lama aku meninggalkan kotaku tercinta tapi setiap perkembangan insya allah aku selalu ikuti. menurutku Bandung takkan mampu melawan kodratnya untuk menjadi sebuah kota besar semaikin kuat daya pikat Bandungku akan semakin besar dan ruwet Bandung nantinya, akan semakin komplek pula permasalhan di dalamnya seperti pada umumnya terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia maupun manca negara, mulai dari masalah sosial, budaya bahkan yang agak ekstrem Bandung lambat laun akan kehilangan ciri khas geografisnya yang unik, seperti sekarang Bandung panasnya lumayan panas pisan jauh seperti Bandung dimana aku pernah tinggal 30 tahun lalu.
Kita tidak serta merta bisa menyalahkan alam yang tengah bergelut dengan pemanasan global, terlalu besar..terlalu tidak terjangkau untuk kita ikut pusing memikirkan pemanasan global, yang penting kita harus bisa menjaga kearifan lokal yang ada hubungannya dengan geografis Bandung Raya, karena kalau kita bicara tentang Bandung kita artinya harus bicara tentang Bandung raya yang meliputi cekungan Bandung Raya, dari kawasan Lembang di utara hingga kawasan gunung malabar di Selatan, dari kawasan curug Jompong di barat sampai Ranca ekek di timur, semua tentang kota Bandung adalah semua tentang Bandung Raya.

salah satu yang senantiasa menjadi sorotan Bandung adalah Cileuncang pada musim hujan, dan Bannjir di kawasan selatan, jujur! Bandung saat ini memiliki sistim drainase kota yang sangat jelek tidak seimbang dengan perkembangan kota yang pesat ditambah dengan kesadaran warganya yang nota bene sangat minus ditunjukan warga kota Bandung, sepertinya mereka hanya mau menikmanti Bandung saat indahnya saja tapi begitu bandung tengah sakit dengan berbagai masalah mereka hanya menyalahkan, seperti masalah sampah spertimnya bandung tidak beranjak dari masalah sampah, penderitaan Bandung saat terjadi banjir sampah adalah kontribusi negative yang sangat nyata dari warga kota Bandung, banjir cileuncang yang kerap menjadi bagian dari kota bandung di waktu hujan adalah berkat tersumbatnya drainase menuju gorong gorong kota....sudah gorong-gorongnya minus tersumbat pula jadi sempurnalah semua.

Banjir di kwaasan selatan Kota Bandung adalah hal yang kerap terjadi tiap tahun, ini terjadi karena Sungai Citarum sebagai GOT atawa Gorong-Gorong raksasa milik Bandung raya sudah tidak mampu menampung limpahan air hujan se Bandung Raya, debit air yang luar biasa menjadikan Citarum seperti tak ubahnya got kecil yang tidak mampu menampung air hujan, gundulnya di kawasan hulu sungai Citarum dan anak-anak sungai serta cucu-cucu sungai menjadikan air mengalir bebas tanpa hambatan menuju ke hilir tumplek-plek..jadi wajar kalau citarum tidak mampu menampung, penggundulan di kawasan hulu yang disebabkan beralih pungsinya kawasan resapan menjadi kawasan pertanian menjadikan kualitas air sungai citarum dipadati dengan lumpur karena tanah tidak mampu menahan lajunya air penggundulan yang terlihat eksterm terjadi di kawasan kertasari, pacet, saya masih ingat betul bagaimana beningnya sungai cangkuang yang merupaka anak sungai citarum di kawasan cibeureum-cikembang, padahal daerah ini belumlah jauh dari mata air sungai Citerum di Cisanti, kondisi sungai Cankuang saat ini sangat memprihatinkan dimana airnya kini pekat coklat terkadang hijau dikotori kotoran sapi, saat ini kawasan hutan kina di kawasa cikembang sudah tidak ada lagi, beralih pungsi menjadi perkebunan kentang...entah siapa yang harus bertanggung jawab akan hal ini..sepertinya penguasa perkebunan PTP tidak peduli dengan bencana yang akan ditimbulkan dari dampak alih pungsi hutan ini spertinya mereka malah berlomba lomba mencari keuntunga dari situasi yang tidak menguntungkan ini, hal ini juga terjadi didareah lainnya yang masih menjadi DAS Citarum seperti di kawasan gunung wayang, bukan hal aneh kalau kita mendengar istilah sewa kebon di kawasan tsb yang arealnya adalah areal hijau dulunya, di tambah dengan adanya proyek geothermal...seharusnya mereka ikut bertanggung jawab atas pemeliharaan hutan di sekitarnya.


Ada wacana untuk memangkas curug Cijompong....ah sepertinya wacana ini adalah wacana bodoh yang pernah aku dengar, aku memang bukan ahli tetapi adalah hal bodoh memangkas yang berarti meniadakan warisan sejarah alam yang satu ini, sedangkan masalah utamanya bukan di Curug Cijompong mengap[a curug Cijompong harus menjadi korban atas apa yang bukan di sebabkannya, dengan biaya yang super besar kita harus kehilangan salah satu warisan alam di Bandung Raya!!!! trus apakah akan efektif saya yakin tidak.....karena debit air yang luar biasa yang merendam Bandung raya tetap menjadi jumlah yang teramat besat untuk ditampung curug Cijompong belum lagi sang air yang teramat banyak tersebut harus melalui celah sempit berupa dinding terjal yang ada didekat jembata nanjung...lihatlah betapa sempit celah tersebut bahkan bila celah tersebut di bendung setinggi 10 meter praktis danau Bandung purba akan menjelma kembali, jadi menurut saya pemangkasan curug Cijompong adalah hal yang sia-sia.

Saya juga pernah membaca wacana tentang akan dibuatnya Tunnel air yang menghubungkan Kawasan Bale endah dengan curug ci jompng...menurut saya ini adalah wacana terbaik yang ada dan urgent untuk dilakukan, tapi spertinya tidak harus dari Bale Endah cukup dari daerah Jelekong (nanjung) menembus bukkit kecil sejalur jalan raya cipatik menuju waduk saguling sebelum jembatan batujajar (selacau). jadi tidak harus mengutak atik curug Cijompong, dari kawasan Baleendah sampai Jelekong cukup dibuatkan Banjir kanal kecil yang sipatnya membantu debit air cepat mengalir karena masalah sebenarnya ada pada celah sempit di jembatan Nanjung, jarak dari kawasan jelekong sampai ke Cipatik tidak lebih dari 1200m, segala bentuk dan wacana untuk menangaini air berlebih ini tentunya harus diiringi dengan program pengurangan debit air yang ektrem tidak hanya dengan acara-acra reboisasi yang sifatnya seremonial hrus ada program yang jelas yang melibatkan semua organisasi masa dan lsm serta mahasiswa dan pelajar sebagai bentuk tanggung jawab menjadi bagian dari warga Bandung raya yan kita cintai.

Pendanaan????Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar