Kan ku raih di BANDOENGku
Senin, 21 Agustus 2017
buat my Bab
tak terasa mereka tlah beranjak.....menjadi motivasi terbesar hidupku......bab hatur nuhun melalui kamu dia titipkan mereka buat kita.........bab maaf atas segala salah yang tlah kubuat....kamu sungguh istimewa insya allah abadi kita hingga nanti...............
Rabu, 07 Mei 2014
Kamis, 26 Maret 2009
GEDUNG-GEDUNG JANGKUNG 'MENYERBU' BANDUNG
Bisnis Indonesia, 23-11-2008, Dadan, Sirojul, Hilman Foto: www.pdw-architects.com, Hotel Hilton Bandung
Sobirin, Anggota DPKLTS, mengingatkan minimnya ruang terbuka hijau yang menjadi tempat resapan air di Bandung. Dia setuju dengan pembangunan hunian vertikal, sebagai antisipasi lonjakan jumlah penduduk Kota Bandung yang saat ini mencapai 3 juta orang.
Hilton Bandung
Oleh:
A. Dadan Muhanda, Sirojul Muttaqien (Kontributor Bisnis Indonesia)
Hilman Hidayat (Wartawan Bisnis Indonesia)
Lima tahun lalu, jumlah gedung pencakar langit di Bandung bisa dihitung dengan jari tangan. Waktu itu, hanya ada Menara BRI setinggi 17 lantai dan Wisma Lippo di Jalan Asia Afrika yang cukup mencolok. Kini, gedung-gedung tinggi di Kota Kembang itu terus bertambah. Bandung mulai dibanjiri gedung-gedung jangkung.
Dalam 3 tahun terakhir, pembangunan produk properti di sektor ritel seperti mal dan bentuk pusat perbelanjaan lainnya, sempat menjadi primadona. Cihampelas Walk, Braga City Walk, Bandung Super Mall, hingga Metro Trade Center yang kemudian berubah menjadi Metro Indah Mall, menambah panjang daftar pusat perbelanjaan di Bandung.
Bandung, yang merupakan salah satu tempat favorit dan terdekat bagi orang-orang Jakarta untuk berlibur, memberikan ide lain bagi para pelaku industri properti. Tidak hanya pusat perbelanjaan, tetapi para wisatawan asal Jakarta itu juga menjadi pasar potensial bagi para pengembang apartemen dan hotel.
Sebelum akses tol Cipularang dibuka, industri properti di Bandung memang didominasi produk properti komersial seperti mal, ruko, dan pusat perbelanjaan. Produk properti hunian seperti rumah dan apartemen tumbuh lambat, karena hanya ditujukan bagi pasar warga Bandung semata.
Saat ini, ada beberapa apartemen dan kondotel yang telah selesai dibangun dan sudah beroperasi, seperti Aston Bandung Hotel and Residence, Sukaluyu, Simpang Dago, Galery Ciumbuleuit Apartment, Setiabudhi Apartment, dan Majesty Apartment.
Sayang, tidak ada data resmi berapa kapasitas unit apartemen yang masuk itu karena di Bandung tidak ada perusahaan konsultan properti yang rutin melakukan riset seperti di Jakarta. Organisasi pengembang pun, tidak mempunyai data pasti jumlah unit apartemen yang ada.
Tetapi setidaknya, Menara BRI setinggi 17 lantai yang sempat mencatat rekor gedung tertinggi di Bandung dalam beberapa tahun itu, tidak lagi berdiri sendiri. Ada bangunan apartemen yang juga berdiri menjulang.
Memasuki 2008, sejumlah proyek gedung mulai digarap. Berdasarkan data BCI Asia, Lembaga riset dan survei sektor konstruksi, sedikitnya ada 23 bangunan bertingkat yang akan masuk pasar di Bandung pada periode 2008-2009. Sebanyak 13 bangunan sudah masuk tahap konstruksi, dan sisanya dalam tahap perencanaan.
Sejumlah proyek yang tengah dan akan dikembangkan itu antara lain proyek hotel dan apartemen Marbella yang dikembangkan oleh PT Pudjiadi Prestige Tbk di kawasan Dago Pakar, dengan ketinggian masing-masing gedung 15 lantai.
Di kawasan Setiabudhi juga akan dibangun Century Hills Hotel and Apartment setinggi 26 lantai yang memiliki kapasitas 600 unit apartemen dan 360 kamar hotel. Demikian juga De Huis Executive Apartment di kawasan Jalan Cicalengka dengan ketinggian 20 lantai dengan luas bangunan 60.000 meter persegi. Proyek lain, Grand Royal Panghegar, Patra Bandung Hotel, Hotel Afta, serta Executive Residence di Jalan Riau.
Sebagian besar gedung tinggi yang masuk pasar Bandung memang berupa hotel, kondominium atau apartemen, serta kondotel yang merupakan gabungan hotel dan kondominium. Itu semua karena Bandung merupakan kota tujuan wisata, bukan pusat bisnis seperti Jakarta.
Hari Raharta Sudradjat, Ketua DPD REI Jawa Barat, mengatakan pembeli apartemen di Bandung mempunyai alasan beragam. Tidak sedikit pembeli yang bekerja di Jakarta dan pulang ke Bandung hanya setiap akhir pekan.
Ada juga yang menjadikan apartemen di Bandung sebagai instrumen investasi, dengan cara menyewakan unit mereka kepada para pelancong yang rutin datang setiap akhir pekan atau musim liburan.
Kendati praktik seperti itu sempat membuat berang para pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, toh tamu yang datang ke Bandung juga tidak bisa ditampung oleh hotel-hotel yang ada.
Tipe pembeli lainnya adalah masyarakat Bandung yang menjadikan apartemen sebagai bagian dari gaya hidup. "Kelompok pembeli ini mulai bermunculan, meskipun jumlahnya masih terbatas," kata Hari.
Masalah Tata Ruang
Namun, kehadiran gedung-gedung jangkung tersebut ternyata menimbulkan permasalahan baru yang serius. Mochamad Ridwan Kamil, arsitek dari Urbane Indonesia, menilai tata ruang Bandung tidak siap menampung serbuan gedung-gedung tinggi.
Infrastruktur di Bandung yang sangat minim, tanpa ada pelebaran jalan dalam beberapa tahun terakhir, membuat kehadiran gedung-gedung tinggi itu menambah kemacetan di Bandung, sama seperti yang terjadi di Jakarta.
"Lebar jalan di Bandung masih kecil. Jalan di Bandung juga sangat minim, hanya 20% dari luas Kota Bandung. Sekarang saja sudah macet, bagaimana nanti," kata Ridwan. Dia juga menilai Pemkot Bandung tidak punya konsep pembangunan yang jelas.
Proyek pembangunan selalu datang dari pihak swasta, bukan tawaran dari pemerintah. Akibatnya, yang mengendalikan pembangunan di sektor properti Bandung adalah pengembang. "Seharusnya proyek dan konsep datang dari pemerintah, bukan sebaliknya. Pemda jangan meluluskan semua proposal proyek, tanpa mempertimbangkan kesiapan infrastruktur," kata dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Sobirin, Anggota Dewan Pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), juga mengingatkan minimnya ruang terbuka hijau yang menjadi tempat resapan air di Bandung. Hal itu menyebabkan pasokan air di Bandung terus berkurang. Pasokan air saat ini hanya berkisar 40 liter per orang per hari, atau jauh dari angka ideal 200 liter per orang per hari.
Dia memang setuju dengan pembangunan hunian vertikal, sebagai antisipasi terhadap lonjakan jumlah penduduk Kota Bandung yang saat ini sudah mencapai 3 juta orang. "Namun, sebanyak 47 aliran sungai dan 77 titik mata air di Kota Bandung kondisinya sudah mengkhawatirkan karena tidak adanya ruang terbuka hijau (RTH) untuk resapan air," ujarnya.
Semoga Bandung tidak sampai terhuyung-huyung, menahan serbuan gedung-gedung jangkung. (hilman.hidayat@bisnis.co.id)
Oleh:
A. Dadan Muhanda, Sirojul Muttaqien (Kontributor Bisnis Indonesia)
Hilman Hidayat (Wartawan Bisnis Indonesia)
Langganan Banjir & Cileuncang

Pemangkasan curug cijompong adalah pemusnahan Nature heritage, pemikiran tidak maju sama saja dengan menghancurkan situs kekayaan alam
Penggundulan hutan Kina di kawasan Cikembang-Kertasari, pada gb diatas bagian pojok kiri bawah, sebelumnya adalah hutan kina yang sangat lebatMungkin sudah terlalu lama aku meninggalkan kotaku tercinta tapi setiap perkembangan insya allah aku selalu ikuti. menurutku Bandung takkan mampu melawan kodratnya untuk menjadi sebuah kota besar semaikin kuat daya pikat Bandungku akan semakin besar dan ruwet Bandung nantinya, akan semakin komplek pula permasalhan di dalamnya seperti pada umumnya terjadi di kota-kota besar lainnya di Indonesia maupun manca negara, mulai dari masalah sosial, budaya bahkan yang agak ekstrem Bandung lambat laun akan kehilangan ciri khas geografisnya yang unik, seperti sekarang Bandung panasnya lumayan panas pisan jauh seperti Bandung dimana aku pernah tinggal 30 tahun lalu.
Kita tidak serta merta bisa menyalahkan alam yang tengah bergelut dengan pemanasan global, terlalu besar..terlalu tidak terjangkau untuk kita ikut pusing memikirkan pemanasan global, yang penting kita harus bisa menjaga kearifan lokal yang ada hubungannya dengan geografis Bandung Raya, karena kalau kita bicara tentang Bandung kita artinya harus bicara tentang Bandung raya yang meliputi cekungan Bandung Raya, dari kawasan Lembang di utara hingga kawasan gunung malabar di Selatan, dari kawasan curug Jompong di barat sampai Ranca ekek di timur, semua tentang kota Bandung adalah semua tentang Bandung Raya.
salah satu yang senantiasa menjadi sorotan Bandung adalah Cileuncang pada musim hujan, dan Bannjir di kawasan selatan, jujur! Bandung saat ini memiliki sistim drainase kota yang sangat jelek tidak seimbang dengan perkembangan kota yang pesat ditambah dengan kesadaran warganya yang nota bene sangat minus ditunjukan warga kota Bandung, sepertinya mereka hanya mau menikmanti Bandung saat indahnya saja tapi begitu bandung tengah sakit dengan berbagai masalah mereka hanya menyalahkan, seperti masalah sampah spertimnya bandung tidak beranjak dari masalah sampah, penderitaan Bandung saat terjadi banjir sampah adalah kontribusi negative yang sangat nyata dari warga kota Bandung, banjir cileuncang yang kerap menjadi bagian dari kota bandung di waktu hujan adalah berkat tersumbatnya drainase menuju gorong gorong kota....sudah gorong-gorongnya minus tersumbat pula jadi sempurnalah semua.
Banjir di kwaasan selatan Kota Bandung adalah hal yang kerap terjadi tiap tahun, ini terjadi karena Sungai Citarum sebagai GOT atawa Gorong-Gorong raksasa milik Bandung raya sudah tidak mampu menampung limpahan air hujan se Bandung Raya, debit air yang luar biasa menjadikan Citarum seperti tak ubahnya got kecil yang tidak mampu menampung air hujan, gundulnya di kawasan hulu sungai Citarum dan anak-anak sungai serta cucu-cucu sungai menjadikan air mengalir bebas tanpa hambatan menuju ke hilir tumplek-plek..jadi wajar kalau citarum tidak mampu menampung, penggundulan di kawasan hulu yang disebabkan beralih pungsinya kawasan resapan menjadi kawasan pertanian menjadikan kualitas air sungai citarum dipadati dengan lumpur karena tanah tidak mampu menahan lajunya air penggundulan yang terlihat eksterm terjadi di kawasan kertasari, pacet, saya masih ingat betul bagaimana beningnya sungai cangkuang yang merupaka anak sungai citarum di kawasan cibeureum-cikembang, padahal daerah ini belumlah jauh dari mata air sungai Citerum di Cisanti, kondisi sungai Cankuang saat ini sangat memprihatinkan dimana airnya kini pekat coklat terkadang hijau dikotori kotoran sapi, saat ini kawasan hutan kina di kawasa cikembang sudah tidak ada lagi, beralih pungsi menjadi perkebunan kentang...entah siapa yang harus bertanggung jawab akan hal ini..sepertinya penguasa perkebunan PTP tidak peduli dengan bencana yang akan ditimbulkan dari dampak alih pungsi hutan ini spertinya mereka malah berlomba lomba mencari keuntunga dari situasi yang tidak menguntungkan ini, hal ini juga terjadi didareah lainnya yang masih menjadi DAS Citarum seperti di kawasan gunung wayang, bukan hal aneh kalau kita mendengar istilah sewa kebon di kawasan tsb yang arealnya adalah areal hijau dulunya, di tambah dengan adanya proyek geothermal...seharusnya mereka ikut bertanggung jawab atas pemeliharaan hutan di sekitarnya.

Ada wacana untuk memangkas curug Cijompong....ah sepertinya wacana ini adalah wacana bodoh yang pernah aku dengar, aku memang bukan ahli tetapi adalah hal bodoh memangkas yang berarti meniadakan warisan sejarah alam yang satu ini, sedangkan masalah utamanya bukan di Curug Cijompong mengap[a curug Cijompong harus menjadi korban atas apa yang bukan di sebabkannya, dengan biaya yang super besar kita harus kehilangan salah satu warisan alam di Bandung Raya!!!! trus apakah akan efektif saya yakin tidak.....karena debit air yang luar biasa yang merendam Bandung raya tetap menjadi jumlah yang teramat besat untuk ditampung curug Cijompong belum lagi sang air yang teramat banyak tersebut harus melalui celah sempit berupa dinding terjal yang ada didekat jembata nanjung...lihatlah betapa sempit celah tersebut bahkan bila celah tersebut di bendung setinggi 10 meter praktis danau Bandung purba akan menjelma kembali, jadi menurut saya pemangkasan curug Cijompong adalah hal yang sia-sia.
Saya juga pernah membaca wacana tentang akan dibuatnya Tunnel air yang menghubungkan Kawasan Bale endah dengan curug ci jompng...menurut saya ini adalah wacana terbaik yang ada dan urgent untuk dilakukan, tapi spertinya tidak harus dari Bale Endah cukup dari daerah Jelekong (nanjung) menembus bukkit kecil sejalur jalan raya cipatik menuju waduk saguling sebelum jembatan batujajar (selacau). jadi tidak harus mengutak atik curug Cijompong, dari kawasan Baleendah sampai Jelekong cukup dibuatkan Banjir kanal kecil yang sipatnya membantu debit air cepat mengalir karena masalah sebenarnya ada pada celah sempit di jembatan Nanjung, jarak dari kawasan jelekong sampai ke Cipatik tidak lebih dari 1200m, segala bentuk dan wacana untuk menangaini air berlebih ini tentunya harus diiringi dengan program pengurangan debit air yang ektrem tidak hanya dengan acara-acra reboisasi yang sifatnya seremonial hrus ada program yang jelas yang melibatkan semua organisasi masa dan lsm serta mahasiswa dan pelajar sebagai bentuk tanggung jawab menjadi bagian dari warga Bandung raya yan kita cintai.
Pendanaan????Bersambung
Bandung
Tak kan habis kata kalau cerita soal bandung, ada pesona ada cinta ada problematika..semua mengemuka menjadi ciri sebuah kota besar yang terus tumbuh dengan segala persoalannya, namunbegitu takdir tetaplah takdir yang mengatakan aku akan tetap mencintainya dengan segala kondisi apapun, kemanapun aku pergi nama Bandung takakan pernah tergantikan walau sejuta pesona milik kota lain menggoda dengan dahsyatnya, walau saat ini aku tak memiliki sedikitpun kontribusi untuk kotaku tercinta namun melalui tulisan norak ini aku mencoba untuk meneriakan sedikit unek-unek yang mana tahu akan sedikit berarti untuk kotaku dan Bandung raya tercinta.
Langganan:
Postingan (Atom)